REDOMINASI RUPIAH

 

Redenominasi adalah penyederhanaan atau pengurangan nominal mata uang Rupiah tanpa memotong nilai tukar mata uang itu sendiri.

Contoh : Uang Rp 1.000 menjadi Rp 1, Rp 10.000 menjadi Rp 10, Rp 50.000 menjadi Rp 50. Artinya ada pengurangan 3 digit nominal.

Redenominasi ini sendiri tidak sama dengan yang pernah terjadi pada masa pemeritahan Soekarno (orde lama). Redenominasi berbeda dengan Sanering. Redenominasi adalah kebijakan yang dilakukan dengan memotong nominal mata uang dengan tidak mengurangi nilai tukar mata uang itu sendiri, misalkan saya membeli sabun seharga RP 10.000, ketika diberlakukan Redenominasi maka saya tetap membayar sabun itu dengan harga Rp 10 (pengurangan 3 digit angka).

Sanering adalah pemotongan nilai mata uang tetapi harga barangnya tetap sama. Misalkan saya membeli sabun seharga Rp 10.000 ketika Sanering berlaku maka uang saya menjadi Rp 10 sedangkan harga sabun itu tetap Rp 10.000.

Syarat redominasi :

  1. Ekspektasi inflasi harus berada di kisaran rendah dan pergerakannya stabil.
  2. Stabilitas perekonomian terjaga dan jaminan stabilitas harga.
  3. Kesiapan masyarakat

Rencana redenominasi Rupiah dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) pada hari Senin (2/8/2010) malam.

Ada kabar menyebutkan (dari televisi) bahwa nanti dalam masa sosialisasi redenominasi Rupiah ini akan ada 2 mata uang, Rupiah lama dan Rupiah baru. Repot, karena misalnya di Supermarket pakai sistem Barcode tidak terlalu rumit, tinggal buat 2 barcode, mau bayar pakai Rupiah lama atau Rupiah baru, tinggal scan.

Menurut Wakil Presiden Boediono, redenominasi  rupiah belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Studi redenominasi ini sudah dilakukan Bank Indonesia beberapa waktu lalu dan perlu waktu yang panjang untuk menjadi kebijakan. ( TEMPO-Interaktif, Jakarta )

Tujuan Redenominasi Rupiah sendiri adalah untuk mempermudah transaksi pembayaran. Tujuannya memang baik, tapi tidak sebanding dengan kebingungan masyarakat karena belum siap akan hal tersebut.