“Al, hari ini mama lembur. Mama minta tolong kamu nanti temenin Alif sampai mama pulang ya,”

Huh. Aku mengeluh di dalam hati tetapi tetap berusaha tersenyum di depan mama. Menjaga Alif setengah hari saja aku sudah lelah sekali bagaimana menjaganya sampai mama pulang.

“Alif, nanti jangan nakal sama Kak Aliya ya, nanti mama bawain es krim kalau Alif nggak nakal,” Mama mengelus rambut Alif.

Belakangan ini aku berpikir kalau mama hanya sayang dengan Alif, apa-apa Alif, ini itu semua tentang Alif. Semua untuk Alif. Mama mulai tidak adil. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa apalagi harus protes ke mama tentang keadaan ini, alasannya karena sudah pasti mama tetap membela Alif dan aku hanya dapat nasihat panjang lebar ala mamaku.

Semua sudah berubah. Dulu aku memang paling manja dengan papa dan setelah kepergian beliau aku merasa separuh hatiku hilang begitu saja. Pola hidup dan segala rutinitas berubah begitupula dengan keadaan ekonomi di rumah. Mama yang dulu tidak bekerja sekarang harus bekerja, untunglah mama masih di terima di sebuah restoran karena keahliannya memasak.

Bergantung pada penghasilan mama yang hanya setengah dari penghasilan papa dulu membuat kami sepakat tidak lagi memakai jasa pembantu rumah tangga dan baby sitter untuk menjaga Alif, semua ini untuk memangkas pengeluaran demi membayar kebutuhan yang lain. Aku setuju saja karena untuk anak seusiaku belum bisa menghasilkan sesuatu untuk membantu mama.

***

            Sampai di sekolah, aku menceritakan semua keluhanku pada Rino sahabatku sejak kecil. Rino adalah teman yang baik, dia tahu kapan harus memberi saran dan kapan harus menjadi pendengar saja. Kali ini dia mendengarkan saja disaat aku memang tidak butuh sanggahan apapun tentang keluhanku.

Sepulang sekolah sebelum langsung menuju rumah aku harus menjemput Alif. Mengendarai sepeda motor butut yang dibeli mama setelah menjual mobil peninggalan papa terkadang membuatku kesal sendiri karena tak jarang sepeda motor ini mogok di tengah jalan. Aku menunggu di depan pintu gerbang tempat biasa aku menjemput Alif. Tak berapa lama Alif keluar dan segera naik ke jok belakang serta merta dia memelukku.

Sekolah Alif tidak begitu jauh dari rumah, namun panas terik matahari hari ini membuatku mendambakan segelas air putih dingin langsung dari kulkas. Aku menenggak dua gelas, dan segera membawakan jus semangka kesukaan Alif yang sudah dibuatkan mama sebelum berangkat kerja tadi.

“Alif, minum dulu ya jus semangkanya,”

“Nggak ah kak, Alif mau main,” Oke, drama king mulai beraksi. Aku menghela nafas.

“Mainnya abis minum jus aja ya,” Aku masih berusaha berbaik-baik pada monster kecil ini.

“Nggak mau! Pokoknya Alif mau main sekarang!” Hobinya mulai keluar, berteriak-teriak.

“Terserah Alif deh, Kak Aliya udah ngejalanin perintah mama jagain Alif. Tapi Alif nakal, Kak Aliya telepon mama biar kamu dihukum,” Aku meninggalkan Alif di ruang tv. Aku membanting pintu kamar.

Sebenarnya aku tidak benar-benar marah padanya. Namun aku kehabisan akal untuk membuatnya menurut sedikit saja agar tidak perlu ada emosi. Apa kisah kakak beradik yang bisa main akur berdua itu hanya ada di sinetron, aku juga pengen kok bisa begitu dengan adikku.

Sudah sekitar lima belas menit aku termenung duduk di tepi tempat tidur, aku harus segera keluar untuk melihat Alif. Tapi aku tidak menemukan Alif di ruang tv. Aku berteriak-teriak memanggilnya namun tidak ada jawaban.

“ALIF!” Aku spontan berteriak karena mendapati Alif tak sadarkan diri di halaman belakang dengan posisi telungkup.

Aku segera mengangkatnya dan membawanya ke sofa ruang tengah. Dahinya berdarah, dan aku sangat panik. Aku menelepon mama namun tidak dijawab. Akhirnya aku menelepon Rino untuk meminta bantuan.

***

            Sekarang aku dan Rino duduk di lorong rumah sakit di depan ruang UGD. Aku menangis. Aku sudah menghubungi mama dan beliau sedang dalam perjalanan kesini. Rino berusaha menenangkanku, sedikit membantu namun tetap saja pikiranku tidak karuan.

Mama datang dan tidak lama dokter yang memeriksa Rino keluar dari ruangan. Dokter bilang Alif tidak apa-apa hanya terbentur dan berdarah. Alif masih belum sadar karena pengaruh obat bius, sehingga mama tidak terlalu lama berada di dalam. Mama keluar dan mengajakku bicara.

“Al, kenapa sampai bisa begini?” Mama terlihat begitu tenang, sangat di luar dugaanku. Aku pikir aku akan habis dimarahi mama.

Aku menceritakan kejadian tadi siang sampai saat aku menemukan Alif pingsan. Mama menunduk. Hal itu semakin membuat rasa bersalahku memuncak. Aku takut hal buruk terjadi pada Alif walaupun bukan itu doaku.

“Maafin Aliya ya ma,” Airmataku masih belum bisa berhenti mengalir.

Tiba-tiba suster memanggil memberitahukan kalau Alif sudah sadarkan diri. Aku dan mama segera masuk ke dalam. Rino menatapku sebelum aku masuk ke dalam. Aku yakin tatapan itu mengandung sihir karena setelah itu aku mendapat suntikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi di dalam ruangan.

“Mama, kakak,” Alif terlihat begitu pucat.

Mama menggengam tangan kanan Alif sembari menciumi dan mengelus rambutnya. Aku berdiri di sebelah kiri Alif berhadapan dengan mama. Tiba-tiba tangan kecil Alif menggenggam jari-jariku.

“Kakak, maafin Alif ya,” Begitu tulusnya kata-kata itu keluar dari bibir mungil adikku.

“Maaf untuk apa ‘Dek. Kakak yang harusnya minta maaf sama kamu,” Airmataku semakin deras mengalir. Berjuta rasa bersalah membumbung memenuhi pikiranku, semua ini karena kelengahanku.

“Nggak kak, semua karena Alif. Ma, Alif tadi nakal sama Kak Aliya. Alif nggak nurut kata Kak Aliya terus Kak Aliyanya ngambek deh,”

Mama nggak menjawab. Ia terus mengelus rambut Alif. Dan mama tidak menangis sama sekali. Beliau lebih tegar setelah kepergian papa.

“Terus Alif lagi apa di taman belakang sampai jatuh begitu?” Aku berusaha memecah keheningan yang terjadi selama beberapa detik itu, namun sangat menusuk bagiku.

“Alif ngambil bunga mawar di taman kak, buat Kak Aliya biar kakak nggak marah lagi sama Alif,”

Jleb! Entah rasa apa ini namanya. Aku yakin Alif tidak bohong dan aku yakin mama sedang memandang ke arahku. Aku menunduk, menangis dan berusaha menahan tangisku agar tidak bersuara.

“Kak Aliya jangan nangis dong. Alif aja yang berdarah nggak nangis. Kak Aliya jangan nangis nanti Alif beliin es krim yang di depan sekolah Alif ya,” Alif membujukku seperti aku yang lebih kecil darinya.

“Iya sayang. Kakak ngga nangis kok,” Aku mengelap butiran air mata di pipiku.

“Sekarang Alif mau bobo sebentar ya. Alif ngantuk. Boleh kan ma?”

“Iya boleh sayang,”

Setelah itu Alif tertidur. Mama mengajakku keluar. Masih ada Rino di luar. Mama mengajakku bicara jauh dari tempat Rino duduk.

“Al, mama tau kamu lelah dengan keadaan kita sekarang. Sekarang semua sudah nggak seenak dulu. Mama bukan nggak sayang sama kamu, mama tahu kamu cemburu soal mama selalu membela Alif tetapi Alif masih kecil dia butuh lebih banyak perhatian. Bukan berarti mama tidak memperhatikan kamu, mama percaya kamu sudah bisa menjaga diri kamu sendiri sedangkan Alif belum bisa. Dulu saat kamu seusia Alif, kamu mendapat kasih sayang dari mama dan papa namun Alif dia besar tanpa papa. Kamu lebih beruntung sayang. Kamu tau kan kenapa mama mempercayai kamu untuk menjaga Alif, selain karena keuangan kita yang sudah tidak mampu menyewa jasa baby sitter, kamu adalah satu-satunya orang yang mama percaya dapat menjaga Alif dengan sebaik mungkin karena kamu kakak kandungnya Al,”

Aku sudah sesenggukkan mendengar semua perkataan mama. Ingin rasanya aku menebus semua kesalahan ini dengan apapun asal Alif jangan sampai masuk rumah sakit seperti ini dan membuat mama sesedih ini.

“Aliya minta maaf ma,” Aku hanya mampu melontarkan kalimat itu. Selebihnya tangisku saja yang mewakili.

Mama memelukku. “Mama juga minta maaf menyusahkan kamu terus. Jadikan hal ini pelajaran untuk kita berdua supaya lebih waspada menjaga Alif. Kita tinggal bertiga, kita saling membutuhkan. Itu saja pesan mama ya sayang,”